Jumat, 13 Mei 2016

Kisah Inspirasi Mahasiswa Indonesia Yang Meraih Mimpi Dengan Keterbatasan Fisik dan Ejekan

Muhammad Zulfikar Rakhmat (22 tahun) adalah Seorang mahasiswa Indonesia yang tengah mengambil program doktoral di Manchester, Inggris. Dia menceritakan bagaimana ia menghadapi ejekan dan kesulitan dalam meraih "mimpi'nya di tengah keterbatasan fisiknya yang dialaminya.

Dia bercerita bahwa sejak lahir mengalami Ashpyxia Neonatal, atau gangguan yang menyebabkannya dia tidak bisa bicara dengan lancar dan tidak dapat menggunakan kedua tangan untuk sejumlah aktivitas termasuk menulis.

Saat usianya 15 tahun bersama kedua orang tuanya, Zulfikar pindah dari Indonesia ke Qatar. Dan melanjutkan pendidikan di sana dan meraih gelar sarjana dengan predikat terbaik di Universitas Qatar dengan IPK 3.93

Dan saat ini dia tengah melakukan penelitian doktoral di Universitas Manchester tentang dampak perkembangan negara Asia terhadap perkembangan politik di Timur Tengah, setelah sebelumnya mengambil S2 di universitas yang sama.

[caption id="attachment_554" align="aligncenter" width="655"]c Muhammad Zulfikar Rakhmat (22 tahun) : bbc.com[/caption]

"Karena saya tidak bisa menulis dengan tangan, saya harus bawa laptop kemana-mana. Tapi saya tidak pernah menganggap ini sebagai beban, jalani saja - pasti ada jalan. Tuhan tidak pernah membebani hambanya melebihi kemampuan mereka," kata Zulfikar.

"Mungkin terkadang gaya bicara saya yang gagap membuat orang yang baru saya temui agak kesulitan memahami, tetapi lagi-lagi selalu ada jalan untuk mengatasinya seperti mengulangnya atau menjelaskannya melalui e-mail setelah pertemuan."

Setelah memutuskan pindah ke Qatar bersama kedua orang tuanya, kehidupan Zulfikar menjadi lebih baik, tidak adala lagi bullying seperti yang di alami di Indonesia. Ejekan yang paling parah yang dialami adalah, Ketika seseorang mempertanyakan kemampuan nya untuk mencapai mimpi yang dimilikinya. Dan sempat meraakan malas untuk sekolah kareana malu dan takut.

"Saya mengalami berbagai macam bullying, seperti ditertawakan, diejek, dikunci di kamar mandi, gerakan tangan saya yang 'aneh' diperagakan di depan kelas, dan lain-lain," cerita Zulfikar tentang ejekan dan cemoohan yang ia terima saat masih tinggal di Indonesia.

[caption id="" align="aligncenter" width="660"]muhammad zulfikar Muhammad Zulfikar Rakhmat (22 tahun) : bbc.com[/caption]

“Tetapi ayah saya selalu berpesan bahwa jika saya nggak mau sekolah, berarti saya membiarkan keterbasan saya menang. Satu-satunya jalan waktu itu adalah membuktikan bahwa kita tidak seperti apa yang mereka katakan dan lebih berharga dari apa yang mereka tertawakan” Tuturnya.

Selain politik Timur Tengah dan Asia, Zulfikar juga tertarik pada ilmu komputer dan jurnalistik, dengan pengalaman menulis artikel di sejumlah media.

 

Load comments